Menikah

2015 telah berlalu (plus 2016 -sedikit lagi-) , banyak hal yang telah terjadi di muka bumi ini, maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kamu dustakan? MaasyaaAllah…

Oya, sekian lama tak menulis hehe. InsyaAllah…  dalam tulisan ini saya akan berbagi pengalaman tentang pernikahan saya di tahun 2015 lalu, sekedar berbagi pengalaman berharap ada manfaat yang dapat diambil..

Ini dimulai ketika beliau datang ke rumah dan bertemu bapak saya untuk menyampaikan niatnya mempersunting putrinya (baca:saya). Speechless tentu saja. Sampai akhirnya fix kedua orangtua saya menerima lamaran beliau.

Saat perkenalan, beliau menanyakan kepada saya bagaimana pendapat saya tentang pernikahan dan apa visi misi saya sebagai seorang istri dan ibu.

Bagi saya pernikahan adalah ibadah yang harus disegerakan ketika sudah mampu, untuk menghindari dosa secara lahir dan batin, untuk membentengi diri dan menundukkan pandangan, serta sebagai ladang untuk meningkatkan amal dan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah secara langsung yang memerintahkan. Tentu saja  perlu dibekali dengan ilmu, dan lainnya.

Untuk  menjadi seorang istri dan ibu (pun suami dan ayah) yang baik perlu ada sekolahnya, sekolahnya hanya satu yaitu dengan menikah. Alqur’an dan Hadist dijadikan sebagai buku utama panduan sekolah.

Rumah tangga-rumah tangga islami terdahulu sebagai ilmu penerapan aplikasi nyata yang  perlu diteladani dalam berinteraksi kepada masing-masing pasangan untuk membentuk keluarga sakinah mawaddah warahmah, juga dalam melahirkan generasi-generasi qurrota a’yun.

Zaid bin Tsabit, Muhammad Al-Fatih, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan masih banyak lainnya merupakan contoh nyata hasil didikan dari rumah tangga yang pedomannya pada Al-Qur’an dan Hadist. Tujuan utamanya membumikan nama Allah di dunia dan meraih syurganya kelak, insyaAllah.

Sedih menyaksikan fenomena-fenomena saat ini yang begitu jauh dari Al-Qur’an dan Hadist. Cukuplah ini menjadi renungan bagi saya, dan menjadi ikhtiar bersama (pasangan). Karenanya, pilihan menikah dengan siapa haruslah dilandasi dengan agama, bukan keelokan rupa, kedudukan, atau kekayaan (seperti yang tertera dalam sebuah hadist)

Perbincangan dua keluarga berlanjut , membahas tentang bagaimana pernikahan kami nanti. Mulai dari waktu, tempat, mahar panaik, undangan, konsep acara,  catering, baju pengantin, penata rias, dan masih banyak lainnya.

Tanpa menggunakan jasa EO, saya terlibat dalam menentukan dan mengatur semuanya, kecuali beberapa hal.

Untuk waktu, saya dan keluarga sepakat menggunakan tanggal 17 Mei 2015 sebagai hari bersejarah (dalam hidup saya) setelah berbagai macam pertimbangan.

Kemudian tempat acara. Ternyata tidak mudah mendapatkan gedung pernikahan. Saya, ummi, dan bapak mensurvei beberapa gedung, namun tidak ada yang berhasil kami dapatkan. Karena rata-rata setiap gedung telah dibooking oleh orang lain. Akhirnya saya dibantu tante dan sepupu  menelfon ke beberapa hotel. Alhamdulillah kami sepakat menggunakan salah satu hotel sebagai tempat. Karena dihotel, kami tidak perlu repot lagi memikirkan bagaimana dekorasi (kecuali hijab pemisah tamu laki-laki dan perempuan) serta catering apa yang harus kami gunakan, semuanya sudah include (namun meskipun begitu, malam sebelum hari H para keluarga dengan semangat 45 tetap sibuk memasak -untuk tambahan menu katanya, jazakumullaah :’))

Undangan. Setelah waktu dan tempat fix, tante & sepupu saya menyodorkan beberapa undangan untuk dijadikan sebagai referensi dalam membuat isi undangan. Sepupu saya membantu mengetik format dasar isi undangan, dengan berbagai perubahan-perubahan akhirnya saya membawa file undangan tersebut ke percetakan, sekaligus memilih model undangan. Dan, setelah sekian lama menunggu undangan pun jadi.  Jeng..jeng..jeng.. ternyata ada tulisan diundangan yang terbalik. Akhirnya undangan dikembalikan kepercetakan dan dibuat ulang. Awalnya sempat shock karena waktu yang sudah mepet, namun karena pihak percetakan berjanji akan bertanggungjawab dan akan menyelesaikan undangan dalam 3 hari, saya pun menjadi tenang.

Sambil menunggu undangan jadi, saya, bapak, ummi, dan tante membuat list nama-nama  keluarga, teman, dll yang akan diundang. List tersebut kemudian saya bawa ke percetakan untuk sekalian diprint, kemudian ditempel ke undangan. Setelah undangan jadi, akhirnya undangan disebar. Alhamdulillah.

Untuk baju pengantin, awalnya ingin sewa , tapi akhirnya jahit sendiri di sebuah tempat jahit. Tante-tante dan sepupu-sepupu juga sibuk mempersiapkan baju seragam mereka.

Persiapan-persiapan lain seperti penata rias, cindera mata untuk tamu undangan, fotografer dan lain-lain juga sudah siap semua.

Meskipun sebenarnya, terkadang ada saja kendala-kendala yang menghalangi, namun alhamdulillah Allah selalu memberi jalan keluar melalui petunjukNya.

Tentang bagaimana acara berlangsung, bapak saya yang lebih terlibat. Namun saya menggunakan konsep dimana tamu laki-laki dan tamu wanita dipisah (serta pengantin) menggunakan hijab, sehingga tidak campur baur (ikhtilath). Memisahkan tamu laki-laki dan tamu perempuan, menurut saya adalah suatu keharusan. Karena secara tidak sadar campur baur antara laki-laki dan wanita adalah salah satu bentuk maksiat. Juga tanpa alat music, tetapi diiringi dengan nasyid dari maher zain, dll yang non musik.

Daan..

Akhirnya, hari H yang ditunggu-tunggu pun tiba. Semuanya berjalan lancar.

Begitu syahdu. Penuh isak tangis. Mengharu biru. Alhamdulillah…

Sah!

Status berubah, ada amanah yang diemban. Sebagai seorang istri, pun sebagai seorang suami.

Maha suci Allah…

Kami kemudian dipertemukan. Suami memasangkan cincin, saya salim kepada suami dengan maksum. Kemudian kami berdua sungkem ke orangtua kami, bergantian. Setelah itu kami kembali berpisah, duduk di kursi pelaminan masing-masing.

Bapak menyampaikan pesan untuk saya menggunakan mic. Setelah itu, pidato pernikahan disampaikan oleh om saya. Semua begitu bermakna dan dalam. Para tamu menikmati sajian diiringi dengan alunan nasyid, sebagian naik ke pelaminan memberi doa dan ucapan selamat. Mereka menjadi saksi atas kami.

Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Pernikahan adalah babak awal untuk sebuah perjuangan. Mesti ada visi dan misi ilahi yang harus dicapai. Setiap pasangan harus melihat segala sesuatu dengan orientasi akhirat, bukan dengan orientasi dunia. Agar kehidupan setelah pernikahan menjadi berkah dan menjadi  jembatan bersama pasangan dalam meraih ridhoNya.

Jika ingin kehidupan rumah tangga setelahnya menjadi rumah  tangga yang sakinah mawaddah warahmah, maka mulakanlah dengan cara yang baik (tanpa pacaran sebelumnya). InsyaAllah Allah subhanahu wata’ala akan selalu melimpahkan kasih sayangNya kepada pasangan dan keluarga-keluarga yang senantiasa taat padaNya. Jika dulu ada yang sudah terlanjur pacaran sebelum menikah, maka taubat dan berdoa adalah langkah awal untuk memohon ampun atas dosa-dosa yang telah lalu, serta memperbanyak amalan-amalan kepadaNya.

Benar bahwa cinta yang hakiki adalah cinta karenaNya.

Menurut saya, dalam melaksanakan akad dan walimah nikah tidak perlu bermewah-mewah, menghabiskan banyak rupiah. Lebih baik menabung untuk kepentingan rumah tangga setelahnya. Sederhana namun berkah itulah yang utama.

Terlibat dalam setiap persiapan-persiapan dari awal hingga akhir membuat saya lebih memaknai setiap detik proses pernikahan. Doa-doa (untuk kami berdua) dari orang tua, seluruh keluarga, dan kerabat-kerabat adalah hadiah terindah untuk kami. Fabiayyi’alaairobbikumaatukadzibaan..

Jazaakumullah khoiron katsiron, jazaakumullah ahsanal jazaa terkhusus untuk orang tua kami, tante2, om2, oma2, dan sepupu2  yang dengan sangat tulus telah banyak berpartisipasi membantu dalam prosesi akad + walimah nikah kami dan selalu mendoakan kebaikan untuk kami. Juga untuk teman2 sekalian.  Uhibbukumfillah ❤ 🙂

Yaaaap cukup sekian pengalaman singkat dari saya, semoga ada manfaat yang dapat diambil, meskipun hanya setitik hehe. Semoga Allah selalu memudahkan langkah-langkah kita dalam meraih ridhoNya. Aamiin.

Yang belum menikah, semoga Allah segera mempertemukan dengan jodohnya masing-masing, aamiin aamiin aamiin ya robbal ‘alamiin 🙂

IMG_3634

Advertisements

Kamu Dalam Doa

Hai kamu yang dulu selalu kusebut dalam doa.

Hai kamu yang dulu selalu bikin saya baper sendirian.

Iya kamu.

Dan kamu yang kumaksud adalah kamu yang kini ada disampingku dalam ikatan halal 🙂

¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.¨[QS. Yaa Siin (36):36].

p.s: Jangan remehkan doa, trust me. Berdoalah terus dan terus, jangan berhenti! 🙂